Desak Jemput Paksa Setnov

KPK Siapkan Pemanggilan Kedua Pekan Depan

Rabu, 13 September 2017 | 10:08
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
TENGOK: Dokter DPR, dr Hari Suseno bersama Ketua Kepala Badan Keahlian DPR (BKD) Johnson Rajagukguk, dan Kepala Biro Pimpinan Yohannes O.I. Tahapari usai menjenguk Ketua DPR Setya Novanto di RS Siloam Jakarta, Selasa (12/9). Foto: CHARLIE/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetap akan melakukan pemanggilan dan pemeriksaan kembali terhadap Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi KTP elektronik (e-KTP). Pada pemanggilan perdana, pria yang akrab disapa Setnov itu beralasan sakit, sehingga tidak memenuhi panggilan.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pemanggilan kembali terhadap Setnov akan dilakukan setelah satu pekan ke depan serta pihaknya akan mempelajari hasil pemeriksaan kesehatan Setnov terlebih dahulu. Sebab, ada beragam pernyataan dari pejabat Partai Golkar mengenai sakit yang dideritanya. "Memang ada keterangan sakit dari rumah sakit dan dokter kita (KPK, Red) mempelajari terlebih dahulu," ujarnya di gedung KPK, Selasa (12/9).

Komisi antirasuah itu tidak menutup kemungkinan bakal menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menelaah kebenaran surat hasil pemeriksaan kesehatan Setnov. KPK telah membuat perjanjian kerja sama dengan IDI sejak 2012 sampai 2017 dan telah diperpanjang.

Dia berharap kerja sama dengan IDI membuat upaya pemberantasan korupsi menjadi lebih efektif dengan diagnosa sejujurnya atas pihak-pihak yang tengah berperkara. "Dengan adanya kerja sama itu para dokter mendukung upaya pemberantasan korupsi dengan memberikan informasi dan diagnosa sebenarnya," ucapnya.

Terkait penahanan Setnov? Febri mengatakan, saat ini tim penyidik KPK masih fokus untuk melakukan penyidikan serta pemeriksaan kembali atas Setnov. "Jadi mengenai hal tersebut (penahanan, Red), sesuai dengan prosedur kami masih fokus untuk melakukan pemeriksaan terhadap tersangka," jelasnya.

"Jadi, kita akan melakukan pemanggilan kembali dengan harapan tersangka sudah sehat dan bisa memenuhi panggilan pemeriksaan," tutupnya.

Wakil KPK Basaria Panjaitan mengungkapkan bahwa pihaknya tentu akan melakukan penjadwalan ulang pemeriksaan terhadap Setnov. "Pasti ada (penjadwalan ulang, Red) kalau misalkan beliau tidak hadir," tandasnya.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman meminta KPK harus melakukan jemput paksa. "KPK harus panggil paksa. Bahkan kalau perlu ditangkap itu Setnov," tegasnya kepada INDOPOS di Jakarta, Senin (11/9).

Boyamin pun menerangkan, perlakuan jemput paksa juga pernah dirasakan olehnya, meski saat itu dirinya hanya berstatus saksi. "Saya pernah mengalami upaya paksa meski saat itu menjadi saksi, karena saya tak datang pada pemeriksaan pertama di Jakarta Selatan. Ini (jemput paksa, Red) perlu dilakukan demi keadilan. Terlebih lagi itu kan Setnov sudah tersangka," cetusnya.

Tak hanya itu, Boyamin pun meminta agar KPK menahan Setnov meski ada sidang praperadilan yang telah diajukan oleh pria yang pernah terjerat kasus ‘Papa Minta Saham’ PT Freeport Indonesia itu. "Praperadilan Setnov adalah upaya mengulur waktu. Maka KPK harus tegas utk menangkap Setnov sebagaimana KPK telah menangkap Andi Narogong hanya berselang seminggu sejak ditetapkan sebagai tersangka," tegasnya.

Boyamin juga menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan intervensi atas praperadilan Setnov melawan KPK itu pada awal September ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).  "Pada 5 September  intervensi telah diterima Bagian Umum dan sudah resmi diterima PN Jaksel. Semoga dengan intervensi ini, maka praperadilan yang diajukan Setnov ditolak oleh hakim," katanya.

Menurut Boyamin, pihaknya mengajukan permohonan tersebut karena menilai penetapan tersangka Setnov dalam kasus korupsi e-KTP di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) oleh KPK itu sah. "MAKI intervensi dalam posisi membela KPK karena beranggapan penetapan tersangka Setnov oleh KPK sah karena sudah berdasarkan minimal dua alat bukti," ujarnmya.

Sebelumnya, Setnov mengajukan permohonan praperadilan di PN Jaksel, Senin (4/9) lalu. Adapun hakim yang ditunjuk menangani praperadilan tersebut adalah Cepi Iskandar. Permohonan praperadilan Novanto itu terdaftar dengan register Nomor 97/Pid.Prap/2017/PN Jak.Sel.

Sadar dan Bisa Ngobrol

Sementara itu, dr Heri Suseno sebagai dokter yang menangani kesehatan anggota dan pimpinan DPR RI telah menyambangi RS Siloam, Jakarta untuk melakukan pemeriksaan kepada Setnov.  "Yang saya tahu indikasi vertigo. Yang lain-lain masih pendalaman," kata Heri usai dari RS Siloam, Selasa (12/9).

Heri mengakun hanya sempat memeriksa sekilas kondisi kesehatan Setnov. Menurut dia, pihak rumah sakit lebih berwenang menjelaskan ihwal penyakit yang diderita Setnov. Keputusan dirawatnya Setnov juga merupakan pertimbangan rumah sakit. Dirinya walau sebagai dokter DPR tak bisa lagi campur dalam penanganan medis tersebut. "Kalau di rumah sakit yang memeriksa dokter rumah sakit. Kami tidak tahu. Hasilnya apa, itu kewenangan rumah sakit," kilahnya. 

Saat diperiksa tadi, kata Heri, Setnov dalam keadaan sadar dan bisa diajak berbicara seperti biasa. "Pak Novanto kondisinya sadar dan bisa diajak ngobrol," tukasnya.

Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar Nurul Arifin membenarkan. Namun, masih lemas dan diinfus. "Biasa saja, beliau tadi lemas dan masih diinfus begitu. Mungkin juga kecapekan karena kita lihat acara Konferensi Parlemen Internasional di Bali dari 6-8 September lalu padat. Dan ternyata waktu kemarin, beliau masih sempat olahraga main pingpong, tapi mendadak jatuh pingsan dan kemudian diputuskan untuk dibawa rumah sakit," katanya, kemarin.

Menurut Nurul, Setnov memang sempat bermain pingpong di basement rumahnya. Pada hari yang sama, sekitar pukul 20.00, ia pun mendapatkan kabar Novanto masuk ke RS Siloam karena jatuh pingsan. "Saya tidak tahu pasti, tapi pada malam itu saya diberitahu," akunya.

Ia melanjutkan, kondisi Setnov kemarin secara umum masih sama dengan hari sebelumnya. Indikasinya memang vertigo, sehingga kini sedang dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan. "Kalau menurut permintaan dari dokter supaya istirahat total, jadi bed rest lah beliau. Saya berharap bapak bisa cepat pulih dan bisa bekerja seperti biasanya," kata Nurul.

Dia belum mengetahui hingga kapan Novanto harus istirahat total. Sebab ada beberapa kemungkinan indikasi kesehatan yang lain. Adapun untuk memastikan dugaan tersebut, mereka masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. "Kemarin juga sudah dilakukan tindakan pemeriksaan MRI dan Thorax dan juga USG juga sudah tadi pagi. Hasilnya saya tidak bisa memberi tahu karena itu kewenangan dokter," pungkasnya.

Saat ditanya secara detail bagian tubuh mana saja yang diperiksa lebih dalam, Nurul enggan mengungkapkannya. Dia hanya menegaskan, kondisi Novanto yang hingga kini masih lemas. Mereka yang mendampingi Setnov saat ini adalah ibu dan sejumlah teman-temannya.

"Ada ibu (istri Setnov, Red) yang mendampingi, ada teman-teman yang datang menjenguk lah. Tapi juga tidak bisa terlalu banyak ngobrol gitu, kalau di situ disarankan dokter untuk tidak banyak menerima tamu, tapi kan kita tidak bisa juga menolak," ujarnya.

Berdasarkan pantaun INDOPOS, beberapa petugas membawa sekitar 10 nasi kotak ke ruang perawatan Setnov. Di luar kamar Setnov yang dibatasi dinding kaca dijaga ketat oleh sekuriti dan ajudan Ketua DPR RI. Bahkan awak media tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar di luar kamar perawatan Setnov.

Perlu diketahui, Setnov sedianya menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka di KPK terkait kasus korupsi e-KTP, Senin (11/9). Namun dia mangkir dengan alasan sakit dan saat ini sedang dirawat di RS RMCC Siloam, Semanggi, Jakarta. (bir/dil/aen/ibl)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
100%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%