Takut Ditahan, Setnov Pura-pura Sakit?

KPK Langsung Selidiki Alasan Mangkir Pemeriksaan

Selasa, 12 September 2017 | 09:45
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ketua DPR Setya Novanto.

INDOPOS.CO.ID - Rencana penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ketua DPR RI Setya Novanto, kemarin dipastikan gagal. Pria yang akrab disapa Setnov itu mengaku tengah bermasalah dengan kesehatannya. Setnov disebut-sebut khawatir dirinya ditahan KPK, sehingga mengambil langkah ‘pengamanan’ dengan mengaku sakit.

Rencananya, kemarin, Setnov yang juga Ketua Umum Partai Golkar bakal diperiksa sebagai tersangka untuk pertama kalinya terkait kasus dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik di Kemendagri tahun anggaran 2011-2012.  Kabar yang tersiar menyebutkan, kemarin seharusnya menjadi ‘Senin Keramat’ bagi Setnov. Jika sebelumnya penahanan tersangka di KPK selalu dilakukan pada hari Jumat, khusus Setnov, rencananya Senin kemarin atau sehari menjelang sidang praperadilan yang diajukannya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham pun buru-buru membantah.  Setnov kata Idrus,  tidak berpura-pura sakit untuk menghindari pemanggilan dan kemungkinan penahanan oleh KPK. Setnov betul-betul sakit, karena kelelahan setelah hampir satu pekan mengikuti kegiatan World Parliamentary on Sustainable Development di Nusa Dua, Bali. Bahkan Setnov sempat terjatuh saat berolahraga.

"Jadi kemarin Minggu (10/9) sore, Pak Novanto berolah raga seperti biasa, main tenis meja. Beliau tiba-tiba terjatuh," ungkap Idrus saat dihubungi, Senin (11/9).

Idrus menuturkan, setelah diperiksa oleh dokter pelayanan masyarakat DPR, Setnov langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Siloam. Kemudian, keluarga memberikan kabar terkait kondisi Setnov pada dini hari tadi kepadanya.

"Saya pun menjenguknya tadi pagi. Kata dokter, vertigonya kambuh dan gula darah beliau juga naik yang ternyata ada implikasi fungsi ginjal dan jantung," ujarnya. 

Idrus mengajak semua pihak untuk mendoakan kesembuhan Setnov. Dia berharap Setnov cepat segera pulih agar dapat kembali menjalankan tugas sebagai Ketua DPR agar fungsi pengawasan, anggaran dan legislasi agar tidak terhambat.

Tak ingin dianggap mengada-ada, Idrus melampirkan surat keterangan dokter untuk dibawa ke KPK. Bahkan, Idrus juga mengutip nama dokter yang memeriksa Novanto sejak semalam. "Ada Dokter Stefanus, Dokter Daniel juga," ucapnya.

 

Dikatakan, Ia akan menyerahkan surat yang ada kepada KPK. “Terserah nanti kepada penyidik tentunya kita akan menyerahkan surat secara resmi yang menjelaskan kondisi Pak Novanto tidak memungkinkan untuk diperiksa," lanjut Idrus.

 Meski begitu, Idrus mengaku tidak tahu sampai kapan Setnov dirawat di rumah sakit. "Saya bukan dokter, saya kira dokter di sana (yang mengetahui). Saya hanya pada posisi menyampaikan," ujarnya.

Atas mangkirnya Setnov dengan alasan sakit, langsung direspon KPK, mengingat panggilan pemeriksaan sudah dua kali dilakukan. Tidak hanya akan melayangkan pemanggilan ulang, namun akan menelusuri kebenaran dari alasan ketidak hadiran Ketua Umum partai Golkar tersebut.

Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif kemarin mengatakan, pihaknya segera bertindak cepat menyusul absennya Setya Novanto dalam pemeriksaan, Senin (11/9). Lembaga antirasuah akan melayangkan panggilan kedua terhadap tersangka kasus korupsi e-KTP itu.

"Tadi memang kita mendapatkan surat bahwa yang beliau dikatakan sakit, setelah kami dapatkan itu, kami susulkan surat pemanggilan yang kedua," ujarnya kepada wartawan di Komplek Parlemen, senayan, Senin (11/9).

Dia juga sudah memerintahkan agar secepatnya Novanto bisa menemui penyidik-penyidik KPK ketika telah sembuh. KPK pun akan mengecek soal status sakit Novanto. "Ya biasanya kan belum ada batas waktunya seperti itu. Tapi kalau sakit, kan dicek," kata Laode.

Laode mengaku, KPK memang belum mengecek Novanto langsung ke rumah sakit. Sehingga tak mengetahui soal bagaimana kondisi Novanto. Adapun soal praperadilan yang diajukan Novanto, ia menegaskan KPK selalu siap. Sebab tahapan KPK ketika menetapkan seseorang menjadi tersangka dilakukan dengan sangat hati-hati.

"Kalau dalam rangka praperadilan, untuk mnghadapi praperadilan, ya KPK selalu siap. Kita selalu optimis dalam setiap kasus," kata Laode.

Ditambahkan Pelaksana Harian (Plh) Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati, belum diketahui secara pasti sakit yang diderita Setnov. Tim penyidik pun sedang mempertimbangkan sejumlah langkah untuk menyikapi ketidakhadiran Novanto. KPK akan memastikan kondisi kesehatan Novanto dengan meminta pendapat kedua atau second opinion dari dokter lain.

"Sampai hari ini kan baru suratnya saja yang datang. Surat keterangan bahwa yang bersangkutan tidak hadir. Jadi surat itu akan dikembangkan lagi oleh penyidk termasuk nanti apakah perlu dilakukan atau permintaan second opinion. Nanti bsa diberikan IDI, KPK ada kerja sama dengan IDI," paparnya. 

Bahkan, kata Yuyuk, tak menutup kemungkinan pihaknya akan memeriksa langsung ke rumah sakit dimana Novanto dirawat untuk memastikan hal tersebut.

Novanto sebelumnya telah menjadi tersangka di KPK. Ia diduga ikut mengatur agar anggaran proyek pengadaan KTP elektronik atau e-KTP senilai Rp 5,9 triliun disetujui oleh anggota DPR.

 

Selain itu, Setnov diduga mengondisikan pemenang lelang dalam proyek e-KTP. Bersama pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong, Novanto diduga ikut menyebabkan kerugian negara Rp 2,3 triliun.

 Atas penetapan tersangka itu, Novanto telah mengajukan gugatan praperadilan. Rencananya, sidang perdana praperadilan akan digelar pada hari ini, (12/9).

 

Diminta Mundur dari Jabatannya

Terpisah, mantan Ketua Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG), Ahmad Dolly Kurnia mengaku, dirinya heran dengan ketidakhadiran Novanto di KPK. "Padahal Idrus Marham berkali-kali dalam dua hari kemarin memastikan bahwa Novanto akan memenuhi panggilan itu. Dan saya juga mendapat informasi bahwa kemarin dan hari-hari sebelumnya Novanto baik-baik saja dan hadir di beberapa pertemuan dan undangan," ucapnya melalui pesan singkat, Senin (11/9).

Dolly juga prihatin jika Novanto betul-betul menderita banyak penyakit secara tiba-tiba yaitu vertigo, gula, ginjal dan jantung. Orang yang terkena penyakit berat tersebut, tentu akan kesulitan mengerjakan sesuatu. Apalagi mengemban amanah sebagai Ketum Partai Golkar. 

"Jadi apabila benar sakit, sebaiknya Novanto meletakkan jabatan dan mundur sebagai ketua umum. Dalam bahasa AD/ART itu masuk kategori 'berhalangan tetap' namanya. Kita ikhlaskan Novanto untuk fokus menghadapi sakitnya dan kasus hukumnya," ujar dia.

Jika sakit Novanto itu sengaja dibuat-buat, kata Dolly, dan sekadar mencari alasan mangkir dari panggilan KPK, maka jelas itu adalah perbuatan yang tidak mentaati hukum dan tercela. Selain itu, kondisi tersebut menghambat proses penegakan hukum yang sedang berlangsung.

"Dan itu akan semakin menambah malu wajah Golkar, karena dianggap tidak menghargai proses hukum," tutur dia. (aen/bir) 

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%