Pelapor Kasus Penistaan Agama Kecewa

Jumat, 21 April 2017 | 09:16
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Terdakwa kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengikuti sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/4). Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun karena Jaksa menilai Ahok terbukti melakukan penodaan agama.

INDOPOS.CO.ID - Nada kecewa diucapkan pelapor kasus penistaan agama, Pedri Kasman. Hal ini karena dia mengetahui bahwa Ahok hanya dituntut satu tahun penjara dengan percobaan selama dua tahun. Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu tidak percaya jika JPU hanya berani menuntut Ahok dengan hukuman seringan itu . "Saya atas nama pelapor sangat kecewa dengan tuntutan yang dibacakan oleh JPU," tegasnya.

Pedri bahkan berkata bahwa JPU diduga telah diintervensi dalam menentukan tuntutan terhadap Ahok, sehingga JPU terkesan tidak tidak independen dan cenderung membela terdakwa. "Artinya, kami memandang JPU diduga keras telah diintervensi besar-besaran oleh kekuasan atau kekuatan lain. Bisa dilihat dengan jelas, JPU tidak independen, bahkan kami melihat seolah jaksa pembelanya Ahok," paparnya.

Diketahui bahwa Ahok dituntut satu tahun penjara dengan masa percobaan selama dua tahun. Artinya, jika selama waktu tersebut Ahok tidak mengulangi perbuatannya, maka dapat dibebaskan dari masa hukuman.

Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) juga mengkritik keras dakwaan yang diberikan JPU tuntutan Ahok. ”Ini pelecehan terhadap hokum dan agama,” ujar Wakil Ketua ACTA, Habib Novel Bamukmin.

”Sebagai pelapor pertama sudah saya jelaskan di persidangan, Ahok itu menyerang Al Maidah sebanyak tujuh kali,” tandasnya.

Tokoh Muhammadiyah Amien Rais yang hadir di gedung Kementan sempat naik ke atas mobil orator massa kontra Ahok. Di lokasi, Amien menyampaikan sejumlah pesan. Menurut dia, warga Jakarta telah melewati masa pemilihan. "Alhamdulillah kemarin rakyat Jakarta masih menentukan pilihannya, rakyat Jakarta tidak bisa diberondong dengan sembako," tandasnya.

Dia juga berharap terdakwa penistaan agama Ahok bisa mendapatkan hukuman maksimal. "Mudah-mudahan Pak Ahok diberikan hukuman yang maksimal, saya akan mengoreksi bapak-bapak Polri apabila ada hal tidak kondusif," tegasnya.

Amien berkata, Polri adalah petugas keamanan nasional, Polri adalah penjaga keamanan masyarakat. "Bisa kita bayangkan apabila 24 jam tidak ada Polri huru-hara di sana sini, chaos dan gangguan nasional akan terjadi," sambung dia.

Masyarakat, lanjutnya, harus cerdas, jangan sampai diadu domba dengan mudah. Dan hasil hitung cepat pilkada kemarin merupakan berkah bagi umat Islam. "Kita bersyukur atas perolehan kemarin yang benar-benar menciptakan kemenangan atas kehendak Allah berlebihnya mencapai 18 persen selisih suara," paparnya.

Amien lantas mengingatkan kepada massa untuk senantiasa bersyukur kepada Allah. "Jangan lupa kita untuk berdoa terus pada Allah puasa senin kamis berdzikir dan meminta pertolongan kepada Allah. Hidup Polri! Hidup TNI dan hidup bangsa Indonesia!" tukasnya.

Usai persidangan sejumlah massa yang pro Ahok juga sempat ricuh. Keributan ini terjadi di Jalan RM Harsono, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Massa yang ricuh ini menyebut polisi sebagai biang keladinya. Pasalnya, ketika mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya, barikade dari barisan kontra Ahok dibuka, sehingga massa yang kontra lewat di hadapan massa yang pro Ahok.

Sontak saja massa yang kebanyakan mengenakan baju kotak-kotak ini langsung terpancing dan hampir bertindak anarki terhadap massa kontra Ahok yang ada di hadapan mereka. Puluhan anggota kepolisian yang ada langsung berusaha mendinginkan suasana. Akan tetapi massa pro Ahok ini terus saja berteriak dan menyoraki sejumlah massa kontra Ahok yang sempat lewat di depan mereka. "Mengapa dibuka pak? Ini kan lagi panas suasananya," keluh salah satu pria berpakaian kotak-kotak kepada polisi di lokasi.

Sementara polisi hanya bisa menenangkan massa. "Sudah-sudah, masuk saja ke dalam barisan," kata polisi itu. Menurut massa pro Ahok, biasanya polisi akan membuka barikade setelah mereka semua bubar dari lokasi. Tapi kali ini polisi membuka barikade ketika massa masih berkumpul. "Ini harus dicatat, kesalahan polisi. Kita jangan sampai terprovokasi," ucap salah seorang orator di atas mobil komando. Sementara di kubu massa kontra Ahok, polisi langsung merapatkan barikade agar tak ada gesekan antar massa yang setiap sidang hadir di lokasi itu.

Sidang selanjutnya, akan dilanjutnya Selasa (25/4) depan dengan agenda pembacaan nota pembelaan (pledoi) dari pihak kuasa hukum terdakwa.  (bry/elf/jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%