Panitera PN Jakpus Dituntut Tujuh Tahun Enam Bulan Penjara

Rabu, 11 Januari 2017 | 18:20
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi menuntut majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta agar menjatuhkan pidana penjara selama tujuh tahun enam bulan kepada Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta M Santoso. Santoso dinilai terbukti bersama-sama dua hakim PN Jakpus Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya menerima suap sebesar SGD 3.000 dan USD 25.000 dari pengacara Raoul Adhitya Wiranatakusumah dan anak buahnya Ahmad Yani.

"Meminta majelis hakim menyatakan terdakwa Muhammad Santoso terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dakwaan primer," kata Jaksa Ali Fikri saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (11/1).

Selain hukuman badan, JPU juga menuntut agar Santoso dijatuhi pidana dend sebesar Rp 250 juta. Dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan, maka harus diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan

Santoso dinilai terbukti melanggar Pasal 12 huruf c UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Dalam mengajukan tuntutan, JPU memiliki pertimbangan yang memberatkan dan meringankan. Yang memberatkan, Santoso selaku bagian dari penegak hukum telah menciderai kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan, tidak mendukung upaya pengadilan yang ingin mengembalikan kepercayaan publik kepada lembaga peradilan yang bersih dari praktik suap, dan tidak berterus terang.  

"Hal-hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan memiliki tanggungan keluarga," ujar Jaksa Ali.

Santoso dinilai terbukti bersama-sama Partahi dan Casmaya menerima uang dari pengacara Raoul Adhitya Wiranatakusumah dan anak buahnya Ahmad Yani.

"Pemberian uang diberikan langsung oleh Ahmad Yani kepada terdakwa di kantor Wiranatakusumah Legal and Consultant Menteng. Ahmad Yani menyerahkan uang sebesar SGD 25 ribu dengan kode HK (hakim) dan SAN sebesar SGD 3 ribu untuk M Santoso," ujar Jaksa Mochamad Takdir Suhan.

Jaksa Takdir mengatakan, suap diberikan untuk memengaruhi putusan majelis hakim yang diketuai Partahi Tulus Hutapea dan salah satu anggotanya, Casmaya. Yaitu, agar majelis memenangkan perkara perdata PT Kapuas Tunggal Persada sebagai pihak tergugat melawan PT Mitra Maju Sukses.

"Bahwa dari rangkaian fakta tampak jelas adanya penyertaan secara diam-diam atau sukzessive mittaterschaft antara Muhammad Santoso dengan Partahi tulus Hutapea dan Casmaya terkait penerimaan janji berupa uang dari terdakwa dan Ahmad Yani," kata Jaksa Takdir.

Menurut dia, dalam penyertaan diam-diam itu tidak perlu ada kesepakatan atau meeting of mind. Melainkan cukup dengan adanya saling pengertian antara Panitera Pengganti PN Jakpus, M Santoso dengan Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya.

Hal itu terjadi saat Casmaya bertanya kepada Santoso usai sidang putusan perkara PT KTP dan PT MMS dibacakan pada 30 Juni 2016. Saat itu, Casmaya menanyakan kepada Santoso dengan kalimat "bagaimana itu Raoul?"

"Dan tidak menayakan bagaimana kuasa hukum penggugat. Sedangkan pihak yang tidak diuntungkan dari putusan majelis hakim adalah pihak penggugat yaitu PT MMS," ujarnya.

Dalam persidangan, pemberian uang kepada hakim itu tidak diakui Raoul Adhitya. Hakim Partahi dan Casmaya juga membantah telah menerima uang sebesar SGD 25 ribu dari Raoul.

Namun demikian, JPU beranggapan keterangan tiga orang saksi itu haruslah ditolak. Sebab, Raoul mengetahui dan menyadari bahwa terdakwa tidak memiliki kewenangan mengadili dan memutus perkara tersebut.

Selain itu, Raoul terungkap beberapa kali menemui Partahi yang terkenal mengadili kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso, dan Casmaya di luar persidangan dengan difasilitasi oleh Santoso.

Sidang dilanjutkan pada 18 Januari 2017 dengan agenda pembacaan pleidoi atau nota pembelaan dari pihak terdakwa. (Put/jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%