Kasus Kemenkes, Telusuri Keterlibatan Rekanan

Rabu, 11 Januari 2017 | 10:52
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah menelusuri dugaan keterlibatan pihak rekanan dalam penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan alat dan bahan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Satuan Kerja Direktorat Pengendalian Penyakin Menular pada Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2015. 

Hal itu diketahui setelah penyidik pidana khusus memeriksa tiga orang saksi dari PT Safira Mitra Perdana selaku pihak rekanan. Ketiga saksi di antaranya, Bagus Maret Waluyo selaku Direktur beserta dua orang stafnya, Elis Rokayah dan Ferriel Aswini. 

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Mohammad Rum mengatakan, pemeriksaan ketiga saksi ini diduga terkait dokumen penawaran pengadaan alat kesehatan yang disinyalir merugikan negara sekitar Rp 12 miliar tersebut. "Diduga dokumen tersebut telah ditandatangani Edi Haryanto," ungkapnya di Jakarta, kemarin. 

Rum enggan mengungkapkan peran Edi Haryanto dalam pengadaan alat kesehatan tersebut. Ia memastikan bahwa pemeriksaan saksi itu untuk mengungkap calon tersangka dari pihak rekanan. 

Penyidik bahkan pernah memeriksa Handoyo Orbaniyanto selaku Branch Manager PT Mensa Bina Sukses, Andi Eko Sukmajaya sebagai District Manager PT Bemofarm dan Luana Witiawati selaku Dirut PT Djaya Bima Agung.  "Total jumlah saksi yang diperiksa dalam kasus ini sudah mencapai 26 orang. Jumlah ini masih akan terus bertambah," bebernya. 

Sementara itu, Kejagung juga terus menelusuri keterlibatan sejumlah pihak dalam kasus dugaan penjualan tanah negara oleh PT Adhi Karya kepada Hiu Kok Ming. Salah satu pihak yang dicurigai keterlibatannya adalah Giri Sudaryanto selaku Direktur Utama PT Adhi Realty. Pasalnya, Giri diduga pernah menggunakan identitas yang bukan miliknya untuk kepentingan pembukaan rekening di bank.

Ini terungkap saat penyidik pidana khusus memeriksa Jawanih, seorang Office Boy yang bekerja di anak perusahaan PT Adhi Karya tersebut, Senin (9/1) lalu. "Saat diperiksa, Jawanih mengaku pernah dipinjam KTP-nya oleh saudara Giri untuk membuat ATM," ungkap Kapuspenkum Mohammad Rum. 

Namun, dia belum mengungkap maksud dari peminjaman KTP tersebut. Yang jelas, dari pemeriksaan sejumlah saksi diduga dapat diketahui adanya aliran dana ke sejumlah pihak. Bahkan, hal itu terungkap saat pemeriksaan dua orang saksi yaitu, Ari Budiman sebagai petugas administrasi keuangan dan Ari sebagai pegawai PT Adhi Karya.‎

Kepada penyidik, Ari Budiman mengakui pernah menjual tanah kepada seseorang bernama Imam sebesar Rp 30.000.000. Namun belum diketahui apakah tanah yang dijual tersebut berkaitan dengan tanah negara yang dijual oleh perusahaan pelat merah tersebut. 

Tapi dalam pemeriksaan terhadap Ari, telah diperoleh pengakuan bahwa dirinya pernah menerima uang saku dari Giri pada 2010 silam. "Namun yang bersangkutan (Ari, Red) lupa untuk apa uang tersebut digunakan apakah untuk pembangunan musala atau rumah," ungkap Rum. (ydh)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%